LINTASPONTIANAK – Warung kopi, pagi hari, gelas kopi masih penuh setengah, tapi obrolan udah panas kayak air termos.
“Bro, bro, baca ini deh! Presiden Prabowo ternyata nggak setuju koruptor dihukum mati!”
Langsung tuh, satu meja ngangkat alis. Ada yang nyeletuk, “Hah? Seriusan tuh? Padahal rakyat udah greget lho liat koruptor yang hidup enak di penjara.”
Nah, ternyata bukan tanpa alasan. Si Yusril Ihza Mahendra yang sekarang jadi Menko Hukum dan HAM jelasin panjang lebar. Katanya, emang bener sih di UU Tipikor ada opsi hukuman mati, tapi itu cuma buat kondisi luar biasa, kayak negara lagi perang, krisis ekonomi, atau bencana nasional gede-gedean.
Masalahnya, dari dulu sampai sekarang, belum pernah ada koruptor yang bener-bener dijatuhi hukuman mati. Kalaupun dijatuhin, itu pun masih bisa diajukan grasi atau amnesti ke Presiden. Dan eksekusinya? Nah, itu urusan Kejaksaan Agung. Banyak yang nungguin giliran tapi nggak dieksekusi juga.
“Lagian,” kata Yusril, “tahun depan kita bakal pakai KUHP baru, bukan yang peninggalan kolonial Belanda lagi. Di situ, hukuman mati nggak bisa langsung dieksekusi. Harus nunggu 10 tahun dulu, sambil liat apakah terpidana udah tobat beneran atau belum. Kalau udah, bisa turun jadi hukuman seumur hidup.”
Seketika, kopi jadi pahit. Ada yang nyeletuk, “Jadi, kalau dia nangis-nangis, bilang tobat, bisa hidup selamanya di penjara ya? Enak banget dong?”
Tapi Yusril nambahin lagi, katanya Presiden Prabowo itu mikirnya panjang. Sebagai negarawan, beliau nggak mau asal tembak orang, apalagi kalo masih ada kemungkinan 0,1 persen dia nggak bersalah. Sekali orang dihukum mati, nggak bisa di-undo, cuy.
“Ya, gue ngerti sih, ini soal kemanusiaan juga. Tapi tetep aja, bro… rakyat udah muak sama korupsi,” ujar salah satu pelanggan sambil nyeruput kopi hitamnya.
Dan pagi itu, berita soal koruptor dan hukuman mati jadi bahan diskusi panjang dari yang serius sampai yang sambil bercanda. Tapi satu hal yang jelas, hukum itu memang bukan soal emosi, tapi soal prinsip dan kehati-hatian.
Warung tetap ramai, kopi tetap mengalir, tapi obrolan soal korupsi nggak pernah basi. (Hadin)
