Di selasar gelap aku melihat kelabu.
Dalam dekap malam, ia menjelma begitu sempurna.
Kucoba bangkit dan beranjak,
namun ada dinding semu yang tak kasatmata
menahan, menekan, membuat setiap langkah terasa berat.
Sulit.
Namun waktu tak pernah berhenti.
Ia terus mengejar, tanpa ampun,
tanpa peduli pada yang melambat,
tanpa kasihan pada mereka yang tertinggal.
Dalam dunia imajiner, sah saja menjadi penguasa.
Bersorak di atas reruntuhan musuh,
bermandikan kemenangan dan kilau khayal.
Di sana, batas hanya ditentukan
oleh seberapa jauh imajinasi mampu berlari.
Tapi realitas selalu menunggu.
Ia datang bukan dengan pelukan,
melainkan barisan tantangan
yang siap merengkuh dan menggiling
siapa pun yang lengah.
Andai segalanya selaras dan indah,
senyum paling sumringah pasti terpancar.
Namun muslihat terlalu dekat dengan diri,
hingga kadang kita harus menipu diri sendiri
untuk sekadar merasa bahagia.
Penulis : Eky

