PONTIANAK – Dalam upaya mendukung program ketahanan pangan, Polsek Pontianak Timur bersinergi dengan Dinas Pertanian Kalimantan Barat dan pelaku usaha lokal mengadakan pelatihan pembuatan cooling system. Pelatihan ini bertujuan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang teknologi penyimpanan hasil pertanian yang lebih efektif.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Lurah Tanjung Hilir ini dipimpin langsung oleh Kapolsek Pontianak Timur, AKP Heri Purnomo, S.E., S.A.P., dan dihadiri oleh Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat, pelaku usaha, Bhabinkamtibmas, serta masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, AKP Heri Purnomo menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk komitmen Polsek Pontianak Timur dalam mendukung ketahanan pangan di wilayahnya.
“Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap ketahanan pangan di Pontianak Timur. Dengan menggandeng Dinas Pertanian Kalbar dan pelaku usaha, kami berharap masyarakat memiliki pengetahuan baru yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Pelatihan ini tidak hanya fokus pada aspek teknis pembuatan cooling system, tetapi juga menghadirkan sesi diskusi interaktif. Dalam sesi ini, masyarakat, petani, dan pelaku usaha berdiskusi tentang berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pertanian dan distribusi hasil panen.
Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Barat mengapresiasi inisiatif Polsek Pontianak Timur. Ia menilai kolaborasi lintas sektor ini sangat penting untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
“Kami berharap pelatihan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat sektor pertanian lokal dan menciptakan kemandirian pangan di Pontianak Timur,” ujarnya.
Antusiasme tinggi terlihat dari para peserta selama pelatihan berlangsung. Sebagai bentuk dukungan nyata, Polsek Pontianak Timur bersama Dinas Pertanian dan pelaku usaha juga menyerahkan bantuan peralatan pendukung cooling system kepada kelompok tani di wilayah tersebut.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan hasil panen petani dapat bertahan lebih lama, sehingga produktivitas meningkat dan kerugian akibat hasil pertanian yang cepat rusak dapat diminimalisasi.

