MEMPAWAH — Banjir besar yang melanda Kabupaten Mempawah sejak beberapa hari terakhir dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 100 sentimeter telah menyebabkan kerusakan parah di hampir 90 persen wilayah Kota Mempawah. Ribuan rumah terendam, jalan utama terputus, dan fasilitas publik seperti pasar serta perkantoran juga terdampak. Banjir ini bukan hanya menyebabkan kerugian material yang besar, tetapi juga mengganggu kehidupan sosial ekonomi lebih dari 20.000 jiwa yang terdampak.
Pemuda Kabupaten Mempawah, termasuk Faisal Maulana yang tinggal di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, kini semakin mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret dalam mitigasi bencana, guna mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang. Faisal mengungkapkan keprihatinannya terhadap bencana ini. “Banjir tahun ini adalah yang terparah. Kami mendesak pemerintah untuk segera bertindak, baik dalam penanggulangan bencana ini maupun dalam menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk mencegah bencana di masa depan,” ujarnya.
Menurut Faisal dan sejumlah pemuda lainnya, penyebab utama banjir yang sering terjadi di Mempawah adalah buruknya sistem drainase dan pengelolaan aliran sungai yang tidak maksimal. Mereka kini menyerukan perlunya perbaikan besar-besaran pada infrastruktur, khususnya sistem drainase yang lebih efektif, serta pembangunan tanggul yang kokoh untuk mencegah air sungai meluap ke pemukiman warga.
Selain itu, mereka juga mengusulkan penguatan program penghijauan di kawasan resapan air dan daerah tangkapan air agar aliran air bisa lebih terkendali. Pemuda Kabupaten Mempawah menganggap program penghijauan dan konservasi lingkungan penting untuk mencegah terjadinya bencana serupa.
Lebih jauh, Faisal bersama pemuda lainnya mengharapkan pemerintah Kabupaten Mempawah untuk segera menyediakan pusat evakuasi yang lebih layak dan aman bagi warga yang terdampak bencana. Sumber daya yang lebih baik dalam hal penanganan bencana juga sangat dibutuhkan, termasuk pelatihan tanggap darurat dan peningkatan peralatan untuk tim penyelamat.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi warga adalah akses jalan yang terputus akibat banjir. Di jalan Gusti Sulung Lelanang, Desa Pasir, yang menjadi jalur utama menuju beberapa kawasan, ketinggian air mencapai level yang cukup tinggi, sehingga membuat kendaraan bermotor tidak dapat melintas. Untuk itu, masyarakat terpaksa harus merogoh kocek sebesar 50 ribu rupiah untuk menaiki motor yang diangkut menggunakan truk atau pick-up melewati genangan air. Situasi ini semakin memperburuk kondisi perekonomian warga, yang sudah terbebani oleh kerugian akibat banjir.
Para ahli juga menegaskan pentingnya mitigasi bencana di wilayah rawan, seperti Kabupaten Mempawah, yang terletak di kawasan rentan terhadap bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Indonesia sendiri dikenal sebagai negara yang rawan bencana alam, terlebih dengan keberadaannya di kawasan cincin api Pasifik, yang membuatnya sangat rentan terhadap bencana tektonik dan hidrometeorologis.
Oleh karena itu, Faisal dan pemuda Kabupaten Mempawah berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penanggulangan bencana yang sifatnya darurat, tetapi juga memperhatikan upaya jangka panjang yang dapat mengurangi dampak dari bencana di masa depan. Langkah-langkah mitigasi yang sistematis dan berkelanjutan, seperti perbaikan sistem drainase, pengelolaan sungai, serta pembangunan infrastruktur tahan bencana, sangat diperlukan agar bencana serupa tidak terus berulang.
Dengan sinergi antara pemerintah, pemuda, dan berbagai pihak terkait, diharapkan Kabupaten Mempawah dapat lebih siap dalam menghadapi bencana dan mengurangi dampaknya, sekaligus menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.
