Beranda / PBAK IAIN Pontianak 2025: Orientasi atau Sekadar Formalitas?

PBAK IAIN Pontianak 2025: Orientasi atau Sekadar Formalitas?

LINTASPONTIANAK. PBAK IAIN Pontianak tahun 2025 kembali menyisakan ironi. Berdasarkan Kalender Akademik 2024–2025 yang dipublikasikan di situs resmi kampus (iainptk.ac.id), penetapan panitia dan persiapan PBAK dilakukan pada Agustus 2025, sementara pelaksanaannya dijadwalkan 25–29 Agustus 2025. Rentang waktu persiapan yang sangat singkat ini jelas menunjukkan proses yang tergesa-gesa, seakan-akan PBAK hanya dikebut agar terlaksana, tanpa perencanaan matang.

Lebih parah lagi, pengumuman kelulusan Jalur Mandiri Gelombang III baru dilakukan pada 3 September 2025, yakni setelah PBAK selesai. Artinya, mahasiswa yang lulus pada jalur ini otomatis tidak mungkin mengikuti PBAK, karena acara sudah lewat sebelum mereka resmi dinyatakan diterima. Pertanyaannya, siapa yang akan disalahkan atas situasi ini? Apakah mahasiswa baru yang jelas-jelas belum resmi diterima saat PBAK berlangsung, para dosen yang tidak bisa mengatur, atau justru pihak kampus yang sudah menunjukkan kelemahan serius dalam manajemen akademik?

Kejanggalan semacam ini memperlihatkan bahwa PBAK di IAIN Pontianak bukan sekadar kurang matang, melainkan indikasi bobroknya tata kelola kampus. Alih-alih berfungsi sebagai pintu masuk pembinaan mahasiswa baru, PBAK justru menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan yang disusun tanpa sinkronisasi dapat merugikan mahasiswa, menurunkan kualitas orientasi, dan merusak wibawa institusi. Jika pola seperti ini terus berulang, PBAK hanya akan dipandang sebagai acara formalitas yang miskin substansi, bukan sebagai wadah pembinaan akademik yang sejatinya vital bagi generasi baru civitas akademika.

Ironi itu semakin diperkuat oleh kenyataan lain: situs resmi IAIN Pontianak berulang kali jebol dan bahkan berubah menjadi situs slot online. Lemahnya keamanan digital ini tidak hanya memalukan secara institusional, tetapi juga mencerminkan bobroknya tata kelola kampus di ranah paling dasar. Bagaimana sebuah institusi bisa dipercaya mengurus pendidikan ribuan mahasiswa jika menjaga laman resminya saja tidak mampu?

Lebih jauh, wacana transformasi IAIN Pontianak menjadi UIN yang sudah bertahun-tahun digembar-gemborkan ternyata hanya sebatas jargon. Puluhan kali terdengar di telinga, namun tak kunjung ada realisasi nyata. Semua itu justru mempertegas bahwa apa yang dijalankan selama ini hanyalah omong-omong kosong tanpa arah perubahan serius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *