LINTAS NEWS – Selalu ada ungkapan populer di negeri ini, “Ganti menteri, ganti program.” Kementerian Pendidikan bakal ganti nakhoda. Bila sudah ganti menteri, bersiap-siap program juga berganti. Bisa jadi Kurikulum Merdeka Belajar pun ikut diganti.
Menurut Dr. Rahmatul Husni dari Universitas Ibn Khaldun Bogor, kurikulum besutan Nadiem Makarim berada di ujung tanduk. “Kurikulum ini, besar, inovatif, dan katanya membawa angin segar. Tapi, apakah angin segar ini memang ada atau hanya angin-anginan?” tanya beliau dengan penuh khidmat. Sejujurnya, banyak dari kita yang merasakan angin segar ini hanya sesaat, mungkin karena AC di kelas sedang diperbaiki.
Nah, yang paling menarik, Kurikulum Merdeka ini memang tampak revolusioner di atas kertas. Kebebasan berpikir, eksplorasi, bernuansa teknologi. Semuanya dibungkus dalam satu paket canggih bernama “Merdeka”. Tapi, apakah guru dan siswa merdeka beneran? Jangan-jangan mereka malah bingung. Seperti traveler yang hilang di hutan sambil pegang Google Maps tapi tanpa sinyal.
Namun, kebingungan ini bukannya tanpa alasan. Nadiem yang punya segudang ide startup tiba-tiba mengguncang dunia pendidikan dengan ‘program bebas.’ Siswa tidak harus lagi patuh pada sistem lama yang kaku. Guru juga konon tidak lagi diikat oleh belenggu kurikulum yang monoton. Merdeka, kan? Eh, tapi tunggu dulu. Merdekanya itu benar-benar bebas, atau malah menambah PR baru? “Kita belum tahu pasti apakah siswa ini merdeka atau sekadar bingung memilih antara belajar atau tidur siang,” canda Rahmatul sambil tetap terlihat serius.
Ketika kita pikir drama ini akan selesai di sini, ternyata tidak! Isu pergantian menteri datang membawa kecemasan baru. Profesor Abdul Muti, yang katanya akan menggantikan kursi bos Gojek, tentunya punya misi dan visi sendiri. Seperti biasanya, “ganti menteri, ganti kurikulum” mungkin akan kembali terjadi. Pertanyaannya, apakah Kurikulum Merdeka akan tetap bertahan, ataukah diganti dengan Kurikulum ‘Terserah Anda’?
Sebenarnya, Rahmatul menyoroti bahwa kurikulum bukan hanya soal siapa yang di atas. Tapi, siapa yang di bawah, yaitu, para guru dan siswa. Mereka ini lah yang sering kali menjadi korban eksperimen kurikulum yang katanya “inovatif”. Biar bagaimanapun, guru dan siswa ini harus meresapi kebijakan yang datang seperti tamu tak diundang di tengah-tengah pembelajaran mereka. Kalau kebijakan ini bagus, ya syukur. Tapi kalau tidak, siap-siap saja kita akan menyaksikan parade kritik di media sosial.
Kita juga jangan lupa, Kurikulum Merdeka Belajar ini bukannya tidak punya lawan. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) bahkan sudah mengkritisi program ini. Mereka meminta Kemendikbudristek untuk refleksi diri. Refleksi, seperti cermin ajaib yang digunakan Cinderella, bisa jadi akan menunjukkan kelemahan tersembunyi. “Apakah benar kurikulum ini mencerdaskan bangsa, atau hanya jadi kosmetik pendidikan?” tanya Ubaid Matraji dari JPPI. Pertanyaan yang sulit dijawab. Lebih sulit lagi kalau kita lihat data, di mana tiga juta anak Indonesia masih putus sekolah. Bukankah seharusnya ini era kemerdekaan pendidikan?
Kesimpulannya, pergantian menteri memang tidak selalu membawa perubahan dramatis. Tapi kalau sudah bicara kurikulum, Indonesia selalu punya drama baru. Sebentar lagi kita mungkin akan menyaksikan episode terbaru: “Merdeka atau Dikandangkan Lagi?” Jangan sampai kita terjebak dalam pola klasik, Ganti menteri, ganti kurikulum, bingung lagi!
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
