KUBU RAYA – Suasana penuh kehangatan dan keterbukaan menyelimuti ruang pertemuan di Hotel Dangau, Jalan Arteri Supadio, Sungai Raya, Jumat malam, 25 Juli 2025.
Dalam momen ramah tamah yang digelar Forum RT Dusun Parit Mayor Darat bertemu langsung dengan jajaran pengurus Paroki Gereja Katolik Santo Agustinus untuk membangun kembali komunikasi dan memperkuat komitmen bersama menjaga kerukunan umat beragama di wilayah Kubu Raya.
Pertemuan ini dihadiri berbagai unsur penting, antara lain Faizal selaku Koordinator Wilayah Badan Intelijen Negara (BIN) Kabupaten Kubu Raya, Achmad Fathoni dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB), Antonius sebagai Ketua Dewan Pastoral Paroki Harian Gereja Santo Agustinus, Letkol Ignatius Agung selaku Ketua Panitia Pembangunan Gereja sekaligus pembina umat Katolik Wilayah 5–6 Desa Kapur, serta para tokoh masyarakat, pengurus RT, dan kepala dusun setempat.
Negara Hadir untuk Semua
Dalam sambutannya, Faizal menegaskan peran negara dalam menjamin ruang sosial yang damai bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan komunikasi terbuka sebagai bagian dari kerja intelijen untuk mencegah potensi konflik horizontal.

“Setiap peristiwa harus menjadi pelajaran bersama, agar kita bisa terus membangun ruang hidup yang harmonis dan saling menghargai,” ujarnya.
Dialog Sebagai Pilar Toleransi
Hal senada diungkapkan Ketua FKUB Kubu Raya, Achmad Fathoni. Ia menyambut baik pertemuan ini sebagai bagian dari komitmen semua pihak untuk menjadikan dialog antar-komunitas sebagai pilar utama dalam menjaga toleransi.
“Pencabutan surat penolakan sebelumnya merupakan bukti bahwa pendekatan dialog mampu menjembatani perbedaan. Pemkab Kubu Raya pun memberikan dukungan penuh terhadap proses ini,” ucapnya. Ia menambahkan pentingnya menjaga narasi kerukunan agar tetap menjadi arus utama kehidupan masyarakat.
Tolak Politisasi, Jaga Persaudaraan
Dari pihak Gereja Katolik, Antonius menyampaikan apresiasinya atas ruang dialog yang telah dibuka dengan tulus. Ia mengingatkan agar pembangunan gereja tidak ditarik ke ranah politis yang bisa mencederai semangat persaudaraan lintas iman.
“Kami percaya bahwa masyarakat Kubu Raya memiliki semangat kebersamaan yang tinggi. Mari kita tolak provokasi dari luar dan terus perkuat persatuan,” tegasnya.
Klarifikasi dan Ajakan Damai
Ketua RT 07/RW 05 Parit Mayor Darat, Andi Irwan, secara terbuka mengakui bahwa perbedaan pandangan yang muncul sebelumnya lebih disebabkan oleh kurangnya komunikasi langsung.

“Masyarakat kami selama ini hidup rukun. Hanya saja, miskomunikasi kadang menimbulkan tafsir berbeda. Kini saatnya kita membangun masa depan secara gotong royong dan damai,” katanya.
Letkol Ignatius Agung, yang juga pembina umat Katolik di Desa Kapur, turut menegaskan bahwa pembangunan gereja dilakukan secara bertahap, transparan, dan mengikuti prosedur yang berlaku.
“Kami tidak ingin ada sekat di tengah masyarakat. Mari kita saling memaafkan dan membuka lembaran baru bersama,” pungkasnya.
Komitmen Bersama Bangun Harmoni
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna ini menghasilkan pemahaman bersama tentang pentingnya komunikasi lintas iman dan semangat kolektif untuk menjaga kerukunan.
Seluruh pihak sepakat bahwa konflik masa lalu tidak boleh diwariskan, melainkan dijadikan bahan refleksi untuk memperkuat persaudaraan dan inklusivitas.
Melalui forum ini, masyarakat Dusun Parit Mayor Darat dan umat Gereja Katolik Santo Agustinus menegaskan komitmennya, membangun lingkungan yang aman, harmonis, dan terbuka bagi semua golongan.
“Kerukunan bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata yang harus dirawat bersama,” menjadi semangat yang mengikat semua peserta malam itu.
Kubu Raya sekali lagi menunjukkan bahwa jalan damai selalu mungkin, selama ada ruang untuk saling mendengar dan memahami.
