LogisPost.com- Provinsi Maluku Utara kembali mencatatkan pencapaian ekonomi yang fenomenal dengan menjadi provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di seluruh Indonesia. Pada Triwulan II tahun 2025, perekonomian Maluku Utara melesat hingga 32,09%, sebuah angka yang menegaskan posisi strategis provinsi ini sebagai motor baru penggerak ekonomi nasional.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, Simon Sapary, menyatakan bahwa capaian ini merupakan sebuah prestasi yang membanggakan. Pertumbuhan yang luar biasa ini secara dominan ditopang oleh kinerja sektor industri pengolahan dan pertambangan, yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Pertumbuhan ekonomi kita adalah yang tertinggi se-Indonesia, bahkan jika dibandingkan dengan rata-rata negara lain di dunia,” ujar Simon Sapary. “Meskipun angka pada triwulan ini sedikit di bawah triwulan sebelumnya (34,58%), secara nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kita justru mengalami kenaikan. Ini menunjukkan tren yang sangat positif.”
Berdasarkan data BPS, kontribusi terbesar datang dari sektor industri pengolahan yang menyumbang sebesar 40,11%, diikuti oleh sektor pertambangan dengan 20,79%. Kinerja impresif kedua sektor ini didorong oleh masifnya investasi dan kegiatan operasional perusahaan-perusahaan besar yang berada di Kabupaten Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan.
Selain dua sektor utama tersebut, beberapa sektor lain turut memberikan andil signifikan terhadap PDRB Maluku Utara, di antaranya:
- Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: 10,08%
- Perdagangan Besar dan Eceran: 8,74%
- Administrasi Pemerintahan: 7,20%
- Konstruksi: 3,53%
Simon Sapary menambahkan bahwa kekayaan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, terutama nikel, menjadi magnet utama bagi investor. “Kehadiran perusahaan-perusahaan besar di Halmahera Tengah dan Halmahera Selatan telah terbukti memberikan dampak ekonomi yang masif. Potensi serupa juga tersebar di wilayah lain yang siap untuk dikembangkan,” jelasnya.
Di tengah euforia pencapaian ini, Kepala BPS juga mengingatkan pentingnya diversifikasi ekonomi untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan di masa depan. Ia mendorong pemerintah daerah untuk tidak hanya bergantung pada sektor tambang, tetapi juga mulai memaksimalkan potensi sektor lain yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat luas.
“Kita jangan terlalu terlena dengan nikel. Kita harus memacu pertumbuhan di sektor pertanian dan perikanan, karena kita punya lahan yang luas dan subur. Sumber daya tambang suatu saat bisa habis, tetapi agrikultur bisa menjadi penopang jangka panjang kita,” tutup Simon.
Pemerintah daerah diharapkan dapat merespons momentum ini dengan menciptakan kebijakan yang mendukung sektor-sektor nontambang, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Maluku Utara.(RS)

