Penulis Opini: Nurul Fathonah (241840101053)
Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Husni, M.Pd.I
PONTIANAK – Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting untuk membangun sebuah peradaban yang maju. Dalam sebuah negara, peran pendidikan tidak hanya sekadar untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, tapi juga untuk mencerminkan watak dan karakter suatu bangsa.
Indonesia memiliki sejarah pendidikan yang begitu panjang. Mulai dari zaman prasejarah, kerajaan, hindu dan budha, sampai zaman penjajahan. Dan setiap zaman memiliki tujuan, tantangan, dan kompleksitas masing-masing. Namun, di era sekarang yakni era yang memudahkan segala sesuatu ini, apakah tujuan pendidikan masih sama sakralnya?
Modernisasi adalah capaian yang juga diperoleh melalui pendidikan, akses transportasi, komunikasi, infrastruktur, dan banyak lagi telah menjadikan masyarakat menjadi lebih terbuka dalam hal berpikir. Namun, di satu sisi modernisasilah yang menyebabkan sebagian masyarakat menjadi malas. Di bidang pendidikan, teknologi yang dilibatkan untuk membantu dan menjadikan pendidikan lebih berkualitas ini, tidak sedikit pula disalahgunakan. Siswa sampai mahasiswa bisa menuntaskan tugas dari guru atau dosen hanya dengan copy, paste kemudian klik. Padahal, hakikat tugas di ranah pendidikan adalah untuk memberikan tanggungjawab dan mengukur sejauh mana pemahaman siswa atau mahasiswa terhadap suatu pelajaran.
Menurut data OECD (Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia rupanya terendah kedua di dunia. Secara umum, rata-rata jumlah lulusan perguruan tinggi di negara-mitra OECD ada di angka 47,42%. Sedangkan Indonesia hanya 17,93% dari populasi berusia 25-34 tahun. Dan di negara dengan jumlah sarjana paling rendah kedua di dunia ini, Justru tidak sedikit yang tersandung skandal pendidikan: plagiarisme, klaim akademik palsu, dan joki skripsi.
Di samping peran tenaga pendidik di Indonesia yang kerap melupakan asas mencerdaskan kehidupan bangsa, keadaan ini tentu menimbulkan kekhawatiran di antara masyarakat, selain urusan biaya, tidak ada kejelasan prospek lulusan dari perguruan tinggi juga menjadi salah satu faktor sebagian siswa lebih memilih bekerja setelah tamat SLTA dan tidak ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.
Lantas, mengapa sebagian masyarakat masih memilih mengambil gelar sarjana?
Saat ini, sarjana hanyalah gelar tuntutan dari keluarga. Beberapa orangtua yang sarjana, mengusahakan anaknya untuk ‘setara’. Beberapa orang tua merasa ingin membalaskan ketidakmampuan mereka, kepada anak, kepada lingkungan, dan keluarga besar. Ya, sarjana di Indonesia saat ini adalah gengsi, dan tolak ukur keberhasilan orangtua menunjang pendidikan anak. Orang tua percaya, jika anaknya mengenyam pendidikan setinggi langit, maka peluang kesuksesan yang diterima seluas samudra. Padahal, lapangan pekerjaan bukanlah tempat yang sehangat itu. Alih-alih jumlah ijazah, lapangan pekerjaan lebih memilih jam terbang untuk menerima calon pekerja. Ini adalah kenyataan pahit yang harus diterima orang tua, dan sebagian masyarakat Indonesia.
Tidak bisa dipungkiri, tujuan pendidikan di indonesia di era sekarang hanya sebatas gelar. Kunci untuk memaknai pendidikan adalah kemampuan menyadari seberapa penting suatu ilmu sekurang-kurangnya untuk diri sendiri.
Jika kita menganggap pentingnya pendidikan bukan hanya sebatas gelar, tapi pemahaman dan ilmu yang sekiranya akan berguna untuk kemajuan sebuah peradaban dalam hal-hal yang telah disebutkan di atas. Maka, masyarakat akan lebih mampu bersaing dengan kemajuan-kemajuan yang sudah diperoleh oleh negara maju. Dan, jika segala yang terlibat di dunia pendidikan mampu mengesampingkan urusan keuntungan pribadi demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas, maka sekali lagi kita bisa berharap kepada tujuan pendidikan: Mencerdaskan kehidupan bangsa.
