PONTIANAK. Mempawah, 6 Maret 2025 Sejumlah pemuda Mempawah mengkritisi target 100 hari kerja Bupati Erlina yang dinilai masih minim roadmap konkret dan transparansi. Tiga fokus utama, yakni peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), swasembada pangan, dan penanganan sampah, dianggap belum memiliki strategi yang jelas dan terukur.
Faisal, salah satu pemuda Mempawah, menyoroti bahwa tanpa perencanaan matang dan indikator keberhasilan yang konkret, target-target tersebut berisiko hanya menjadi janji tanpa realisasi nyata.
Peningkatan PAD Tanpa Strategi Jelas
Salah satu target utama dalam program 100 hari kerja Bupati Erlina adalah peningkatan
Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, Faisal menilai belum ada kejelasan terkait sumber utama peningkatan PAD dan langkah konkret yang akan dilakukan pemerintah.
Dari mana sumber peningkatan PAD ini? Apakah dari pajak daerah, retribusi, investasi, atau optimalisasi aset daerah? Tanpa strategi yang jelas, target ini sulit diwujudkan, ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu menyusun kebijakan yang menarik investasi tanpa merugikan masyarakat serta memastikan pengelolaan pajak dan retribusi daerah dilakukan secara transparan dan efisien.
Swasembada Pangan Masih Sebatas Wacana
Target swasembada pangan juga mendapat kritik tajam. Faisal menilai bahwa tanpa kebijakan konkret yang mendukung petani, swasembada pangan sulit dicapai dalam waktu singkat.
Apakah ada subsidi pupuk bagi petani? Bagaimana dengan perbaikan sistem irigasi? Apakah ada program pembinaan teknologi pertanian? Tanpa langkah nyata, swasembada pangan hanya menjadi jargon, tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan stabilisasi harga hasil pertanian agar petani tidak merugi saat panen raya. Pemerintah daerah diharapkan bisa bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan pasokan pangan tetap stabil dan berkualitas.
Penanganan Sampah Belum Terselesaikan
Masalah sampah di Mempawah juga menjadi sorotan. Faisal menilai bahwa meskipun sampah masih menjadi persoalan di berbagai titik, solusi yang ditawarkan pemerintah belum jelas.
Apakah ada rencana pengelolaan berbasis teknologi? Bagaimana dengan peningkatan fasilitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA)? Apakah ada program edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah? ujarnya.
Menurutnya, tanpa sistem pengelolaan yang baik, masalah sampah akan terus berulang. Pemerintah harus memiliki kebijakan yang lebih tegas, seperti penerapan aturan pengurangan plastik sekali pakai, sistem pemilahan sampah dari rumah tangga, serta insentif bagi masyarakat yang aktif dalam pengelolaan sampah.
Selain mengkritisi target 100 hari kerja, Faisal juga menyoroti implementasi slogan Mempawah Cerdas, yang dinilai masih sebatas jargon tanpa kebijakan nyata.
Kalau Mempawah ingin benar-benar cerdas, pendidikan harus menjadi prioritas. Apakah sekolah-sekolah sudah memiliki fasilitas memadai? Apakah ada program peningkatan literasi digital? Bagaimana dengan pelatihan berbasis teknologi untuk UMKM? ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pemuda Mempawah berharap adanya transparansi dalam pelaksanaan program kerja pemerintah. Evaluasi program harus dilakukan secara berkala dengan melibatkan masyarakat sebagai bentuk pengawasan.
Pemerintah harus lebih terbuka. Target kerja dan slogan harus berjalan beriringan dengan tindakan nyata, bukan sekadar wacana yang tidak terealisasi, pungkasnya.
