Beranda / Legenda Sang Doktor Pencetak

Legenda Sang Doktor Pencetak

LINTAS NEWS – Pada suatu masa, hiduplah seorang akademisi bergelar doktor bernama Andi Ibrahim. Gelarnya mengilap seperti pagi yang berembun. Reputasinya harum bak parfum murah di toko serba ada. Dia bukan sekadar dosen, melainkan kepala perpustakaan di UIN Alauddin Makassar. Sosok yang dielu-elukan oleh mahasiswa, dihormati kolega, dan… diam-diam menjadi otak di balik pabrik uang palsu terbesar di Gowa.

Ya, ente tidak salah dengar. Seorang doktor. Bukan sekadar doktor, tapi doktor yang pernah belajar hingga ke Yunani dan Turki sebagai utusan resmi. Akademisi sejati, tapi sayangnya, dengan spesialisasi tambahan, “financial engineering” ilegal.

Di lantai tiga perpustakaan kampus, tempat mahasiswa biasa menyusun skripsi dan mengintip contekan dari Google, berdirilah mesin-mesin ajaib. Bukan untuk mencetak buku, tetapi untuk mencetak rupiah palsu pecahan seratus ribu. Jumlahnya tidak main-main. Polisi menemukan uang palsu senilai Rp 446 juta di tempat itu. Sementara sisanya, sekitar Rp 2 miliar, sudah beredar seperti semangat mahasiswa di awal semester.

“Uang palsu itu seperti cinta mahasiswa, sekilas asli, tapi tak bernilai,” kata salah seorang polisi, mungkin sambil terkekeh, entah karena lucu atau miris.

Andi Ibrahim, sosok yang sering memamerkan perjalanan ke luar negeri, mendadak jadi sorotan. Foto-fotonya di Facebook, terakhir diunggah tahun 2019, menunjukkan betapa dia sangat menikmati kehidupannya. Dengan 905 teman di akun media sosialnya, kini ia menjadi perbincangan hangat, bukan karena prestasi, tetapi karena “pabrik kreatif” yang ia kelola di perpustakaan.

“Dia ini luar biasa,” komentar salah satu kolega. “Siapa sangka, kepala perpustakaan bisa jadi kepala geng percetakan rupiah palsu?”

Pecahnya kasus ini bermula dari penangkapan seorang pelaku yang nekat menggunakan uang palsu untuk transaksi. Polisi, dengan semangat investigasi ilmiah dan bantuan tim super gabungan, melacak jejak hingga ke lantai tiga perpustakaan. Mereka menemukan mesin cetak dan 100 barang bukti lainnya.

“Kami tidak menyangka, alat canggih ini ada di perpustakaan kampus,” ujar Kapolres Gowa, mungkin sambil mengelus dada. “Ternyata perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan ilmu, tetapi juga menyembunyikan skandal.”

Kampus pun bereaksi. Andi Ibrahim segera dinonaktifkan sebagai kepala perpustakaan. Pemecatan? Itu masih proses panjang. “Kita tunggu mekanismenya,” kata Wakil Rektor III. “Tapi pasti, ini memalukan.”

Sementara itu, pihak kampus bersikap koperatif. “Kami mendukung polisi untuk menuntaskan kasus ini sampai ke akar-akarnya,” ujar rektor dengan nada datar, mungkin karena terlalu sering mengulang pernyataan yang sama kepada media.

Kini, Andi Ibrahim menjadi legenda. Bukan legenda yang dibanggakan, tetapi legenda yang dikisahkan dengan gelak tawa getir di ruang-ruang obrolan kampus. Seorang doktor yang seharusnya mencetak generasi emas, justru memilih mencetak uang palsu. Sosok yang semestinya menjadi inspirasi, kini menjadi contoh buruk bagaimana gelar tinggi tak menjamin moral tinggi.

“Jadi begini,” kata seorang mahasiswa sambil memandangi uang seratus ribu di dompetnya. “Siapa tahu ini juga hasil cetakan Pak Doktor.”

Moral cerita? Jangan pernah menilai buku dari sampulnya. Apalagi kalau buku itu dicetak di lantai tiga perpustakaan. Sungguh, kisah ini adalah ironi yang terlalu indah untuk dilewatkan. Bravo, Doktor Andi Ibrahim, sang maestro uang palsu.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *