LogisPost.com – Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menunjukkan perlambatan. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,87% secara tahunan (year-on-year) pada kuartal pertama tahun 2025. Angka ini menjadi yang terendah sejak kuartal ketiga tahun 2021.
Perlambatan ini menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah dan pelaku usaha, terutama di tengah upaya pemulihan ekonomi pasca pandemi dan gejolak global yang masih berlangsung.
Menurut analis, pelemahan pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, termasuk melemahnya daya beli masyarakat, penurunan ekspor akibat ketidakpastian global, serta investasi yang belum sepenuhnya pulih. Sektor manufaktur dan konsumsi rumah tangga yang biasanya menjadi motor penggerak utama, tercatat mengalami moderasi dalam kontribusinya.
“Meski masih tumbuh positif, tren ini perlu diwaspadai karena bisa mengindikasikan tekanan struktural yang lebih dalam. Terutama jika kondisi global tidak segera membaik,” ujar salah satu ekonom dari lembaga riset ekonomi terkemuka di Jakarta.
Pemerintah pun diharapkan dapat segera merespons dengan kebijakan fiskal dan moneter yang lebih adaptif, termasuk mempercepat realisasi belanja negara, memberikan insentif sektor produktif, serta menjaga stabilitas harga pangan dan energi yang mempengaruhi inflasi.
Dengan tiga kuartal tersisa hingga akhir tahun, tantangan pemerintah semakin besar untuk mengejar target pertumbuhan tahunan yang telah ditetapkan. Jika tidak ada langkah konkret, risiko revisi target pertumbuhan bisa saja terjadi.(rs)

